Gadih Ranti

Sebuah Novel Klasik Minangkabau
Salim Dt. Sipado Basa
Rp 100.000

Penyunting: Tim Penyunting
Pengatak: Endang Dedih
Perancang Sampul: Endang Dedih
Foto Sampul: Aisha Ismi Haniifa
Model Sampul: Fitrani Isaputri

Penerbit: epigraf
Tahun Terbit: 2016
Ukuran: 13 x 20 cm
Hal: xvi + 200
ISBN: 978-602-74319-5-9

Menerbitkan ulang sebuah naskah klasik bukanlah hal sederhana. Apalagi naskah yang akan diterbitkan ditulis dalam bahasa daerah dan dalam ejaan lama.

Naskah Gadih Ranti ini ditulis dalam Bahasa Minang dengan ejaan lama. Di samping itu, kami menerima naskah tersebut tidak hanya satu, melainkan tiga buah. Yang pertama adalah naskah yang sudah pernah diterbitkan sekitar tahun 30 atau 40an. Naskah ini berupa buku yang ditulis dalam ejaan lama (pemakaian ‘oe’, ‘dj’, ‘tj’, dll).  Naskah kedua adalah naskah di atas lembaran kertas tua hasil ketikan mesin tik, dengan ejaan yang lebih baru (sudah tidak menggunakan ‘oe’ tapi masih memakai ‘dj’). Serta naskah ketiga telah menggunakan Ejaan Yang Disempurnakan, diketik ulang untuk persiapan penerbitan yang mulanya akan dilakukan sekitar tahun 1980-1990an.

Ketiga naskah ini pun isinya berbeda-beda. Naskah pertama hanya memuat bagian pertama saja, yaitu Gadih Ranti. Naskah kedua dan ketiga memuat bagian pertama Gadih Ranti, dan kedua, Mayang Tahurai. Namun rupanya, saat pengetikan ulang naskah ketiga, ada sedikit bagian yang terlewat, yang untungnya dapat dilengkapi dari naskah kedua.

Konsultasi pada sesepuh juga kami lakukan untuk memeriksa kata-kata atau istilah yang kurang familier agar tidak terjadi kesalahan pengetikan.

Meski demikian, semangat untuk dapat menyebarkan karya klasik ini ke khalayak ramai tidak menyurutkan kami untuk terus berusaha menyajikan yang terbaik.

* * *

Kisah Gadih Ranti yang ditulis Dt Sipado Basa memiliki diksi kuat, kaya dengan perbendaharaan istilah minang klasik yang menggetarkan perasaan. Kekayaan rasa bahasanya sulit dicari padanannya di masa sekarang. Kisah Gadih Ranti Dt. Sipado Basa adalah salah satu warisan sastra sangat berharga Minangkabau.

[Maya Lestari GF,  Novelis Minang, tinggal di Padang]

 

Komunikasi antar pelaku cerita sebagai salah satu ciri dari seni satra Melayu termasuk seni sastraMinangkabau, adalah melalui pantun. Komunikasi dapat diawali oleh permintaan, permohonan atau perintah yang kemudian dijawab atau terjadi diskusi yang berakhir dengan kesepakatan disampaikan dengan berpantun.

Orang Minamgkabau tersebar di seluruh Nusantara. Karena lamanya mereka tidak berada di daerah Minangkabau, dapat dimengerti bahwa banyak dari mereka tidak pernah tahu tentang senipantun “Urang Minang”. Bahkan membaca kalimat dalam bahasa Minangkabau dengan istilah-istilah yang baru ditemuinya mungkin agak sulit untuk dimengerti, namun demikian tetap ingin mengetahui lebih lanjut. Ini juga saya alami.

Dengan membaca buku Gadih Ranti ini, mudah-mudahan masyarakat Minangkabau baik di Sumatera Barat atau dirantau mempunyai keinginan untuk menggali lebih lanjut dan kemudian memperkenalkan seni sastra Minangkabau, berupa berbahasa lisan atau tulisan.

[Prof. Dr. Ir. Joenil Kahar, Ilmuwan Minang, tinggal di Bandung]

* * *

Buku ini dapat dipesan melalui:
Rani
WA/SMS: 0856 2482 1929
FB: Fitrani Isaputri

Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrmail