Jangan Baca Novel Ini di dalam Pesawat!

Suatu sore, di pertengahan tahun 2011, untuk suatu keperluan, aku mampir ke sebuah toko penjual peralatan kegiatan alam di kota Bandung. Di sana, tanpa sengaja aku mendapati buku Jejak Sang Beruang Gunung – Hidup dan Petualangan Norman Edwin. Aku tertarik membelinya. Namun sayang, rupanya buku itu tak dijual alias sekadar dipajang untuk teman baca pengunjung toko.

Beberapa minggu kemudian, aku kembali mampir ke toko tersebut dan mendapati buku Jejak Sang Beruang Gunung telah terjejer rapi untuk dijual. Puluhan jumlahnya. Aku mencomot satu, membelinya dan membawanya pulang. Semalaman aku membaca buku itu. Bahasanya lancar, dipadu dengan riset yang tekun dan tak main-main. Cara penulis mendeskripsikan suasana betul-betul tajam sekaligus hidup.

Pada bagian akhir buku, aku sampai merinding ketika penulis begitu detail dan cemerlang menggambarkan detik-detik kematian Norman Edwin di Gunung Aconcagua, Amerika Selatan. Aku terpana sembari membayangkan kematian sang petualang legendaris tersebut pada tebing dengan kemiringan 40 derajat, di ketinggian 6.700 meter, di kawasan Canalleta—yang biasa disebut Penon Martinez. Tetapi, ketika menutup buku, tiba-tiba aku tercekat! Aku merasa terkecoh! Sungguh tertipu!

Bagaimana mungkin si penulis bisa mendeskripsikan begitu gamblang detik-detik kematian Norman Edwin? Bukankah di saat-saat terakhir menjelang puncak, Norman jelas sendirian? Tak ada yang mengiringi. Tak seorang pun tahu bagaimana Norman menghembuskan napas pamungkasnya. Ini gila! Batinku saat itu. Buku Jejak Sang Beruang Gunung jelas bukan novel. Melainkan biografi. Tak syak lagi: si penulis bermain imajinasi. Tetapi, harus kuakui: ia berhasil! Ia sangat-sangat berhasil membuatku memvisualkan kata-kata yang ditulisnya.

Dari buku itu aku pun mencomot kata-kata Norman Edwin, lantas kujadikan sebuah quote di buku Perjalanan ke Atap Dunia (yang saat itu tengah kususun). Kata-kata Norman yang kupungut bukan hasil wawancara si penulis dengan Norman Edwin. Karena (aku yakin) si penulis pun mengutipnya dari sumber kedua. Tetapi, tetap saja aku “mencuri”-nya dari buku tersebut. Saat itu aku hanya berharap: semoga Ganezh, si penulis buku Jejak Sang Beruang Gunung, tak pernah tahu ulahku.

 

Selapik Seketiduran

Siapa nyana, di group Facebook SAHABAT BALADA SI ROY – GOL A GONG, ternyata ada seseorang bernama: Ganezh! Ganezh?! Ai! Rupanya ia memang Ganezh si penulis buku Jejak Sang Beruang Gunung – Hidup dan Petualangan Norman Edwin. Uh! Apa boleh buat, akhirnya kami pun kenal, bersapa, berdiskusi, bercanda, akrab, dekat, hingga saling berbincang di telepon. Ia tinggal di Palembang dan aku di Bandung.

Tak kukira sama sekali ketika pada bulan Oktober 2012, Ganezh bertandang ke Bandung dan menginap di rumahku. Karena terlanjur dekat, akhirnya aku mengaku telah “mencuri” kata-kata Norman Edwin dari bukunya. Ia hanya tertawa-tawa. Usia kami memang tak jauh beda. Tak heran jika kami cepat jadi akrab.

Berminggu-minggu Ganezh tinggal di rumah. Makan bersama, menulis bareng, nongkrong di kawasan Bandung utara, bercerita, berkelakar, berdiskusi hingga dini hari, bahkan selapik seketiduran. Jika di rumah, kami bekerja di perpustakaan pribadiku. Satu meja besar bertentangan. Ditemani bergelas-gelas kopi dan asap rokok yang tak pernah berhenti menari-nari. Saat itu aku tengah menulis novel Niskala sementara Ganezh berjibaku dengan novel Kikan – Srikandi Survivor.

 

Perjalanan Srikandi Survivor

Barangkali karena mengikuti sejak awal, aku jadi tahu proses kreatif novel tersebut. Menurut Ganezh, novel Kikan – Srikandi Survivor sudah ia gagas sejak tahun 2002. Berbarengan ketika ia tengah melakukan riset untuk buku Norman Edwin. Lalu terhenti, kemudian nyambung lagi. Sempat tertunda akibat file berisi beberapa bab dari novel tersebut raib. Tahun 2010 ia tulis ulang lagi, tetapi kemudian terhenti lagi.

Pada Oktober 2012, saat tinggal di rumah, Ganezh masih berputar-putar di bab 2. Rupanya, novel itu betul-betul ia tulis berpindah-pindah kota. Sejak dari Palembang, Bandung, Serang, Yogyakarta, hingga Bintan Utara. Sempat ia sodorkan ke sebuah penerbit. Diminta merevisi, ia turuti, ia kirim lagi. Masih dianggap terlalu kompleks, minta disederhanakan, ia tulis ulang lagi, dan dikirim lagi. Editor ingin karakter tokoh-tokohnya diperluas, ia manut, ia tulis lagi, ia kirim lagi. Tetapi, setelah mengiakan semua pembenahan,  hingga berbulan-bulan lamanya, nasib novel tersebut tetap tak beriwayat. Nyaris tak ada kabar sama sekali dari penerbit. Sampai akhirnya penerbit memutuskan: ditolak! Ganezh pun kembali ke Palembang.

Ganezh mengakui, ia sempat merasa “down” atas riwayat naskah Kikan – Srikandi Survivor. Sudah begitu lama mengerami, namun tak kunjung menetas. Beruntung (atau nekat?), sejak jauh hari Ganezh sudah mempromosikan novel tersebut di media sosial yang ia kelola, bahkan ketika proses penulisan novel tersebut belum lagi usai. Sehingga bertubi-tubi pertanyaan, “Kapan terbit?”, senantiasa muncul, entah dari teman-temannya, pembaca buku-bukunya, atau calon pembaca buku Kikan – Srikandi Survivor. Pertanyaan demi pertanyaan tak kenal letih itulah yang justru menguatkan niat Ganezh untuk tetap menerbitkannya. Melihat kegigihannya, aku pun berkeinginan mengenalkan Ganezh pada seorang editor di sebuah penerbit besar. Ia setuju lantas mengembalikan penulisan Kikan – Srikandi Survivor ke konsep asli/semula.

Namun, pada rentang waktu antara tahun 2014 – 2015, aku sempat kesal pada Ganezh karena ia tak kunjung menyelesaikan “masalah” buku Norman Edwin dengan penerbit lama. Ia kerap mengeluh, tetapi tetap tak mengambil tindakan. Kukatakan, bahwa buku Norman Edwin harus kembali terbit. Siapa pun penerbitnya. Karena begitu banyak yang masih mencari. Buku Norman karyanya termasuk jenis buku yang tak mengenal waktu terbit. Kapan pun diterbitkan, bakal tetap diminati. Tetapi seperti biasa, Ganezh hanya “iya-iya” saja.

Awal tahun 2016, rasanya aku sudah putus asa untuk meminta Ganezh membereskan urusan buku tersebut. Ia pun terkesan ogah-ogahan. Novel Kikan – Srikandi Survivor pun nyaris tak beriwayat lagi. Ia malah menenggelamkan diri dengan bekerja di Pulau Bintan. Bayangkan, sejak buku Norman Edwin terbit, genap satu dekade Ganezh tak menelurkan buku barang secuil pun.

 

Dari Norman ke Kikan

Hingga akhirnya aku berkata, “Kalau kamu nggak mau membereskan, biar aku yang menyelesaikan dengan penerbit itu. Kalau perlu, nanti Epigraf yang menerbitkan!” Ganezh setuju. Maka, kami pun mulai merumuskan judul baru untuk buku tersebut. Meski demikian, ia masih belum tergerak untuk segera melakukan tindakan konkret. Bahkan naskahnya pun tak kunjung kuterima.

Baru ketika Penerbit Epigraf mulai menelurkan judul demi judul buku, Ganezh tersentak. Ia mengaku “cemburu” dengan penulis-penulis (muda) yang bukunya diterbitkan Epigraf. Pada pagi buta tiba-tiba ia tergopoh menelepon, “Oke. Tapi, aku pengin Srikandi Survivor duluan yang terbit, baru buku Norman.”

Srikandi Survivor? Ah, kenapa harus novel itu? Meski sejak 2012 kami sudah diskusi cukup dalam mengenai naskah novel tersebut, sejatinya aku tak begitu paham apa yang sesungguhnya ia tulis di sana. Paling-paling isinya cuma sekelumit kisah petualang kesepian akibat tertikam cinta, lantas pergi mengembara, batinku asal. Tetapi, Ganezh meyakinkan aku bahwa Kikan – Srikandi Survivor bukanlah novel biasa. Bukan novel biasa?! Puh! Yakin sekali dia!

Namun akhirnya aku setuju menerbitkan novel Kikan – Srikandi Survivor yang saat itu sudah ia ubah judulnya menjadi 13thD – Srikandi Survivor. Aku pikir, penilaianku tentang Srikandi Survivor tak lain karena aku belum membaca novel tersebut secara utuh. Maka, pada bulan Mei 2016, kami sepakat untuk menerbitkan 13thD – Srikandi Survivor. Ia memintaku bertindak sebagai editor.

Sejak itu kami pun intens berdiskusi. Hampir tiap hari. Nyaris saban malam. Bahkan hingga menjelang subuh. Ia tetap di Bintan Utara dan aku di Bandung. Aku banyak bertanya tentang naskahnya dan ia menjawab. Bertubi-tubi aku protes dengan caranya menulis dan ia bisa menerima dengan argumentasi yang masuk akal. Aku mengkritik dan menyodorkan solusi, ia menanggapinya dengan dewasa dan penuh keakraban.

 

Memugar Candi

Apa boleh buat, memang banyak yang harus dipugar dari novel 13thD – Srikandi Survivor. Bayangkan, ia menulis dalam program Microsoft Word versi 2003. Formatnya jelas jauh ketinggalan. Naskahnya bertaburan catatan kaki. Sebelum kupangkas, ada 33 catatan dengan deskripsi panjang-panjang!

Ganezh banyak menggunakan kosakata yang sejatinya sudah ada Bahasa Indonesianya, namun ia ketik cetak miring. Seperti: absurd, amburadul, alkaloid, avtur, bivak, diurnal, enek, ekskavasi, emblem, flanel, fosfor, helipad, hipotermia, kanibal, karst, koagulan, kulat, liana, lup, menguik, miang, penyok, siamang, turbulen, valid, hingga zig-zag, semua cetak miring. Seolah-olah itu semua masih bahasa asing.

Ganezh pun masih menggunakan kata-kata asing seperti: black box, cardigan, chainsaw, cockpit, co-pilot, cupescape slide, fuselage, jeans, lasso, nocturnal, phyton, seat belt, snack, sorry, speaker, atau vampire. Padahal semua sudah ada Bahasa Indonesianya.

Memang, ada sederet kosakata asing yang kubiarkan apa adanya. Dengan pertimbangan: bunyi dan pengertiannya akan berbeda jika kuterjemahkan secara harfiah. Seperti avalanche, booby trap, caving, close up, compact flash, crevasse, crossbow, discman, fear factor, feeling, fire drillfrostbite, human error, landing, misting, name tag, nasting, nepenthes, outbound, provider, reality show, rescue, safety talk, shock, survival, survivor, take-off, trauma healing, travelbag, vacum cleaner, view finder, viper atau zombie.

Dalam hal akronim, Ganezh pun terkesan pilih kasih. Singkatan semacam HP, MAPALA, NGO, SAR, SOS, UGD, atau YLKI ia biarkan apa adanya. Seolah semua orang sudah tahu apa kepanjangannya. Bisa jadi logikanya benar. Namun untuk ATC, CPR, GPS, ICAO, KNKT, ia merasa perlu menjelaskan dalam bentuk catatan kaki. Membuatku bertanya: sejatinya siapa yang tidak familer dengan kepanjangan tersebut? Penulis atau pembaca?

Dalam hal penguasaan bahasa, suka tidak suka aku harus berkata agar ia mesti banyak membaca. Betul-betul harus banyak membaca! Selain soal teknik dasar penulisan novel, ia masih banyak menggunakan kosakata lisan, seperti cengkram (cengkeram), isteri (istri), karuan (keruan), merubah (mengubah), nafas (napas), nasehat (nasihat), personil (personel), praktek (praktik), quota (kuota), resiko (risiko), sekedar (sekadar), seksama (saksama), silahkan (silakan), sumringah (semringah), survey (survei), dsb, yang tentu saja salah kaprah.

Hingga akhirnya—dengan berbagai pertimbangan—aku mengusulkan untuk mengganti judul 13thD – Srikandi Survivor menjadi 13 [ Srikandi Survivor ]. Aku bersyukur, ia sangat terbuka dengan segala kemungkinan. Berdiskusi dengan Ganezh memang mengasyikkan. Barangkali karena kami senantiasa berada pada frekuensi yang sama, sehingga perbedaan persepsi tak harus kami bawa ke ranah personal. Toh argumentasi yang kami sodorkan tetap jelas dan masuk akal.

 

Bukan Novel Biasa

Tentu saja aku tak melulu mengoreksi. Seperti sudah kuceritakan di awal: cara Ganezh mendeskripsikan sesuatu memang tajam dan hidup! Jika bicara soal penceritaan, kualitas naskahnya sudah matang. Cerita novel 13 [ Srikandi Survivor ] sudah masak di pohon. Tinggal memetik saja. Ia pintar mengelola emosi pembaca. Babak demi babak meloncat dan berpindah layaknya film. Ia cerdik memainkan plot, adegan, bahkan menggunakan cliffhanger atau akhir yang menggantung. Membuatku terus bertanya: Apa selanjutnya? Bagaimana seterusnya? Sembari berdebar-debar.

Tak syak lagi, persepsi awalku tentang novel Srikandi Survivor sontak berubah total. Terus terang saja, aku tidak bisa berhenti membaca sejak halaman pertama naskah. Terus menyedot hingga akhir kisah. Saat Ganezh berkata, “Ini bukan novel biasa”, aku rasa ia tidak sedang sesumbar. Aku sampai geleng-geleng kepala dan membatin: “Bagaimana bisa ia menulis cerita setegang ini?”

Sementara soal riset, seperti halnya buku Jejak Sang Beruang Gunung, Ganezh tak pernah setengah-setengah. Penulis yang semata mengandalkan fantasi tak kan mampu merawi novel semacam ini. Ganezh meramu wawancara, riset pustaka, riset lapangan, dipadu pengalaman sebagai pendaki gunung dan penggiat alam bebas yang sudah ia tekuni selama puluhan tahun.

Membaca 13 [ Srikandi Survivor ] mampu membuatku bercermin dan bertanya pada diri sendiri: bagaimana seandainya kejadian tersebut menimpa diriku? Mau tidak mau, novel ini memaksaku untuk lebih menghargai hidup.

Kalau ada yang bertanya bagaimana perasaanku usai menyunting naskah novel ini, jawabanku cuma satu: menangis! Ya, di bagian epilog novel, tiba-tiba saja napasku megap-megap. Tanpa sadar mataku pun berkaca-kaca. Ya, sungguh, aku menangis. Cengeng? Entahlah. Tetapi novel ini memang berhasil membiusku. Jika saja aku bukan editor novel ini, kalau pun novel ini tidak diterbitkan oleh Epigraf, aku akan tetap berkata bahwa ini memang bukan novel biasa!

Barangkali aku subjektif. Mungkin saja aku berlebihan. Tetapi, itulah yang kurasakan. Tentu saja pembaca tak harus setuju dengan pendapatku. Bukankah setiap individu berhak memiliki interpretasi masing-masing? Namun satu hal pasti: jangan baca novel ini di dalam pesawat!

Bersiaplah!

Bandung, Juli 2016
Kang Epi
Novelis, editor, penulis buku Perjalanan ke Atap Dunia, sahabat Ganezh.

 

Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrmail