Menulis Itu Seperti Berlari

Sobat, ada buku yang sangat menarik, terutama bagi yang suka menulis dan olahraga (berlari), judulnya What I Talk About About When I Talk About Running. Lumayan panjang judulnya, tapi keren. Buku ini sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh Bentang Pustaka.

Ditulis oleh seorang novelis Jepang bernama Haruki Murakami. Di kalangan pembaca Indonesia namanya belum lama populer, padahal di mancanegara karyanya sudah diterjemahkan paling tidak 50 bahasa. Padahalnya lagi, sependek pengetahuan saya, novel Kafka on The Shore, edisi bahasa Indonesianya yang diterbitkan Alvabet, sudah begitu lama (tahun 2011).

Untuk kamu yang belum tahu siapa itu Haruki Murakami bisa kamu browsing di Google. Yang jelas dia pernah masuk nominasi peraih nobel sastra hingga 10 kali. Artinya, kualitas dan istikamahnya di bidang penulisan sastra (dalam hal ini novel) sudah tidak diragukan lagi. Nah, buku ini boleh dikata memoarnya dalam proses kreatifnya, meskipun lebih banyak becerita soal maratonnya.

Mari kita lihat bagaimana pandangan dia soal keterkaitan antara menulis dan berlari. Murakami mengaku bahwa sebagian besar pengetahuannya tentang menulis dipelajari melalui berlari setiap hari. Misalnya, seberapa banyak dia harus bersikap keras kepada dirinya? Seberapa banyak istirahat yang diperlukan? Sejauh mana dia bisa melakukan sesuatu dan tetap melanjutkannya dengan baik serta konsisten? Seberapa banyak dia harus memperhatikan dunia luar, dan sebanyak apa dia harus berfokus pada dunianya sendiri?

Seperti halnya berlari, menulis pun harus bisa fokus dan punya daya tahan. Tanpa memiliki kemampuan itu, kita tidak akan bisa menyelesaikan apa pun yang bernilai. Secara umum, Murakami berkonsentrasi pada pekerjaan menulisnya selama tiga atau empat jam setiap pagi. Dia akan duduk di depan meja dan berfokus sepenuhnya pada apa yang sedang kutulis. Dia tidak melihat dan juga tidak memikirkan hal yang lain.

Jika kita berkonsentrasi menulis selama tiga hingga empat jam sehari dan merasa kelelahan setelah seminggu melakukannya, kita tidak akan bisa menulis karya yang panjang, ujar Murakami. Seorang penulis fiksi membutuhkan tenaga untuk berkonsentrasi setiap hari selama setengah tahun, satu tahun, atau dua tahun. Murakami mengibaratkan hal tersebut seperti bernapas. Jika konsentrasi hanyalah proses menahan napas, daya tahan merupakan seni untuk mengeluarkan napas dengan tenang dan pelan-pelan sekaligus sambil mengisi udara ke dalam paru-paru. Kecuali, kita bisa menemukan cara untuk menyeimbangkannya, akan sulit bagi kita untuk menulis novel secara profesional dalam waktu yang lama. Jadi, teruslah bernapas sambil menahan napas, ujarnya.

Murakami kemudian memberikan latihannya. Begini katanya, “Kamu harus mengalirkan objek yang menjadi fokusmu ke seluruh sistem tubuh, dan pastikan tubuhmu mengasimilasikan semua informasi yang kamu butuhkan untuk menulis setiap hari, lalu berkonsentrasilah pada kedua tanganmu yang bekerja. Kemudian, secara bertahap, kamu akan dapat mengembangkan batas dari hal yang sudah bisa kamu lakukan. Sedikit demi sedikit hasilnya akan kelihatan.”

Proses latihan di atas sama dengan berlari setiap hari untuk menguatkan otot-otot tubuh dan membentuk fisik kita. Tambahkan stimulan dan pertahankan. Lalu, ulangi. Proses ini tentu saja membutuhkan kesabaran. Namun, pasti akan ada hasilnya, ujarnya.

So, tidak ada cara lain untuk bisa menyelesaikan sebuah tulisan, selain memiliki konsentrasi dan daya tahan. Konsentrasi artinya kamu (aku juga), pada saat menulis, tidak boleh sambil melakukan hal lain, seperti fesbukan atau wasapan. Karena bisa dipastikan konsentrasimu tidak kaffah terhadap apa yang sedang kamu tulis.

Sedang daya tahan artinya kamu (iya deh aku juga) kudu kuat berlama-lama dalam menulis. Jangan sedikit-sedikit jalan-jalan, sedikit-sedikit malas-malasan, sedikit-sedikit bikin kopi, haha…

Tahu tidak, ada lho seorang novelis pujaan Murakami bernama Raymond Chandler yang melatih untuk duduk beberapa jam setiap harinya, padahal tidak sedang ngapa-ngapain, apalagi menulis. Latihan itu menjadi kewajian Chandler setiap harinya. Dan Chandler melakukannya untuk melatih stamina fisik yang diperlukan seorang penulis profesional.

So, just keep writing, guys!

M. Iqbal Dawami
Penulis, editor, dan trainer kepenulisan.

Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrmail