Menulis Itu Seperti Berlari (Bagian 2)

Di dalam buku What I Talk About About When I Talk About Running, Haruki Murakami juga ngomongin soal mantra yang sering dirapalkan oleh para pelari. Wadau, ternyata mantra dipakai juga oleh para pelari, tidak hanya oleh para jawara dan pendekar di Indonesia, hehe.

Murakami kok sampe ngomongin mantra segala. Emang ada kaitannya antara lari sama mantra? Begini ceritanya.

Pas leyeh-leyeh di hotel sambil baca koran olahraga, Murakami membaca artikel tentang maraton. Di dalamnya ada wawancara dengan beberapa pelari maraton yang terkenal. Mereka ditanya tentang mantra yang mereka ucapkan untuk tetap menjaga semangat selama berlari dalam lomba maraton. Membaca pelbagai jawaban dari para pelari itu Murakami begitu terkesan

Nah, ada salah seorang pelari menyebutkan sebuah mantra yang diajarkan oleh kakak laki-lakinya yang juga seorang pelari. Mantra itu telah dirapalnya berulang-ulang sejak dia mulai berlari, begini bunyinya: Pain is inevitable. Suffering is optional. Rasa sakit itu pasti, tapi untuk menderita itu pilihan. Mantra itu cukup manjur bagi pelari tersebut.

Bisa kita bayangkan, seorang pelari maraton berlari tanpa henti yang jarak tempuhnya puluhan kilometer menuju garis finish harus menahan lelah dan mungkin juga rasa sakit. Kondisi itu akan menggoda sang pelari untuk berhenti dan menyerah. Alasan menyerahnya cukup beralasan, bukan? Dan yang paling penting sudah berusaha semaksimal, bukan?

Di situ sakit yang kamu rasakan adalah bagian dari kenyataan yang tidak bisa dihindari, tetapi apakah kamu masih kuat atau tidak, bergantung pada dirimu sendiri, ujar Murakami. Kata-kata Murakami tersebut kalau dipakai bahasanya Rudy Habibie menjadi: faktanya kamu lelah dan sakit gegara maraton berkilo-kilo meter, masalahnya garis finish masih jauh dan kamu sudah tidak kuat. Solusinya baca mantra sampai garis finish. Hehe… (yang sudah nonton film Rudy Habibi pasti tahu banget ungkapan fakta, masalah, dan solusi, hehe).

Oleh karena itu, kalau sang pelari itu tidak merapal mantra itu berkali-kali kepada dirinya sendiri, niscaya dia tidak akan sanggup bertahan dan mengamini segala alasan yang dikemukakannya. Di situlah gunanya mantra. Dengan mantra itu, segala alasan untuk menyerah bisa dilabrak. Konsentrasinya tidak tersedot kepada kondisi fisiknya yang lelah dan rasa sakit yang diderita. Mantra sakti itu menjadi panduan sang pelari menuju garis finish.

Jadi, tinggal kuat-kuatan saja, mana yang didengar oleh sang pelari: alasan untuk menyerah atau mendengar mantra yang dirapalnya itu?¬†Walaupun Murakami tidak secara gamblang apakah mantra itu bisa dikaitkan dengan dunia kepenulisan atau tidak, tetapi saya yakin ada kaitannya. Menulis itu sungguh melelahkan. Pikiran kita diperas habis. Bahkan, untuk memulainya pun butuh kerja keras. Terutama, kerja keras melawan rasa malas, haha… dan setelah memulainya, penulis bekerja keras untuk menuntaskannya. Banyak bukan para penulis yang tidak menyelesaikan naskahnya? Tentu dengan pelbagai alasan, baik logis maupun absurd, hehe..

Tidak ada salahnya kalau kita punya mantra juga dalam tulis – menulis. Bahkan mungkin pada saat tertentu sangat diperlukan dan bisa menolong kita. Mantra itu bisa berupa macam-macam, mulai dari quotes (kata-kata mutiara) para penulis terkenal, nasihat guru dan orangtuanya, hingga visi, mimpi, dan sugesti atas dirinya perihal naskah yang sedang digarapnya.

Saya kerapkali mendapat keluhan dari orang-orang yang sedang menyelesaikan naskahnya (nahasnya, keluhannya mirip banget denganku). Entah alasannya sibuk, belum ada waktu, sulit memulainya lagi, hingga malas yang terus melanda. Tentu saja saya tidak menyalahkan mereka dengan kondisi-kondisi seperti itu. Bahkan memakluminya. Karena, saya sendiri sering mengalaminya, haha…

Oleh karena itu, di sinilah pentingnya sebuah mantra. Ada banyak mantra yang bisa kita gunakan agar kita bisa mengatasi hambatan-hambatan semacam di atas. Hal ini tergantung mantra masing-masing penulis, yang belum tentu ampuh digunakan oleh penulis lainnya. Saya sendiri biasanya menggunakan dua mantra.

Mantra pertama, kata-kata mutiara, yaitu (konon) dari Imam Al-Ghazali. Begini bunyinya, Kalau kamu bukan anak raja, menulislah. Dari pertama mendengarnya hingga kini getarannya masih terasa. Kata-kata itu selalu ampuh bagiku untuk terus bertahan dalam menulis. Aku bukanlah siapa-siapa. Jadi, kalau misalkan aku tidak menulis, maka kena tonjoknya dua kali oleh sang Hujjatul Islam itu: sudah bukan anak raja, tidak menulis pula.
Mantra kedua, berupa sugesti, yaitu aku ingin meninggalkan warisan abadi dalam hidup ini, dan buku adalah salah satunya. Jasadku boleh saja mati, tapi dengan menulis buku, aku (dengan wasilah buku) hidup abadi, yang mungkin terus bisa dimanfaatkan oleh banyak orang, dan menjadi amal jariah bagiku. Kalau sudah berpikir seperti itu, biasanya semangat menulisku terus berkobar hingga selesai satu buku.

Dua mantra itu belum tentu ampuh untuk kamu. Kamu harus mencari mantra sendiri yang jitu untuk diri kamu sendiri. Misalnya, Buku ini akan aku persembahkan sama si dia (atau sama orangtua, atau suami/istri, anak, dan yang lainnya). Oleh karena itu aku harus menyelesaikannya. Bisa juga dengan mantra lainnya, di antaranya: demi mendapatkan cum bagi dosen/guru, demi dijadikan mahar pernikahan, demi meraup kekayaan, bahkan sebagai ungkapan rasa syukur atas karunia yang Tuhan berikan.

Intinya carilah mantra kamu masing-masing yang tujuannya agar naskah kamu bisa selesai. Carilah, karena hanya kamu yang tahu.

Menulislah terus, teruslah menulis.

M. Iqbal Dawami
Penulis, editor, dan trainer kepenulisan.

Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrmail