Menulis Buku

Setiap manusia punya cerita. Setiap kita punya pengalaman, mimpi, dan harapan. Alangkah baiknya jika semua itu ditulis. Mengapa? Karena dengan ditulis, baik cerita, pengalaman, mimpi, dan harapan, semuanya akan terekam dan tidak akan hilang begitu saja. Tentu saja, hal itu akan berguna bagi diri sendiri maupun yang membacanya. Tulisan itu juga akan kita wariskan kepada generasi selanjutnya, baik yang masih ada darah keluarga (anak, cucu, cicit, dan seterusnya), saudara (sepupu dan keponakan), maupun orang lain. Istilah latinnya, “Verba volant, scripta manent”, yang terucap akan hilang, yang tertulis akan abadi.

Kita bisa menuliskan pengetahuan kita, yang biasanya menjadi profesi kita. Petani, pendidik, pengusaha, karyawan, dokter, dan apa pun profesinya bisa ditulis. Inilah hebatnya menulis, bisa dilakukan oleh siapa pun, tidak hanya penulis maupun pendidik.

Seorang juragan beras, misalnya, bisa menuliskan bagaimana cara mendapatkan beras yang berkualitas, cara perawatannya, pendistribusiannya, dan lain sebagainya. Seorang peternak bebek, bisa menuliskan bagaimana cara mendapatkan bibit unggul, membuat pakan ternak alternatif yang penuh gizi,  pemeliharaannya, dan lain sebagainya. Begitu juga dengan dokter, dia bisa menuliskan ilmunya yang mungkin tidak kita dapatkan di buku mujarobat, hehe…

Kita juga bisa menuliskan pengalaman hidup kita, misalnya pengalaman pada saat naik haji maupun pada saat jalan-jalan, baik jalan-jalan ke New York, Newyokarto (Yogyakarta), Singapura, Singaparna (di Tasikmalaya), Denmark, Demak (di Jawa Tengah), maupun Paris (di Prancis) dan Paris (Parangtritis) di Yogyakarta.

Soal mimpi dan harapan, kita bisa menuliskannya baik dalam bentuk fiksi (puisi, novel, dan cerpen) maupun nonfiksi. Begitulah, segala sesuatunya bisa kita tulis. Segalanya bisa kita bagi kepada orang lain dalam bentuk tulisan.

Jadi, menulis itu tidak melulu soal uang, karir, dan jabatan. Itu hanyalah efek dari tulisan kita. Kita menulis jauh melampaui hal itu. Kita menulis karena kita adalah manusia. Kita merayakan hidup dengan menuliskannya.

Iqbal Dawami
Penulis, editor, dan trainer kepenulisan.

Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrmail