Membaca Pramoedya

Sebelum mendirikan klub diskusi “Membaca Pramoedya” pada tahun 2002 di kota Bandung, aku sudah sering membaca tulisan-tulisan Bung Alfred D. Ticoalu di website pribadinya. Kulihat ia cukup rajin mendokumentasi pelbagai perihal Pramoedya Ananta Toer di media internet. Ia tinggal di Chicago, Illinois, Amerika Serikat. Sebuah tempat yang, saat itu, aku tak tahu di mana letaknya di bumi ini.

“Membaca Pramoedya” sendiri adalah sebuah kelompok diskusi yang membahas segala hal tentang Pramoedya. Baik novel, cerpen, karya non-fiksi, wawancara di media, kehidupan pribadi Pram atau apa pun yang berhubungan dengan Pramoedya. Saban hari Sabtu, pukul empat sore, kami bertemu di sebuah toko buku di kota Bandung. Pesertanya boleh siapa saja. Mulai dari mahasiswa S1, mahasiswa S2, mahasiswa program profesi, guru, dosen, wartawan, peneliti, penulis, pengarang, seniman, aktivis buruh, karyawan, pensiunan tentara, mantan kepala sekolah, pedagang buku, hingga pengangguran. Dengan rentang usia 18 hingga 73 tahun.

Berangkat dari “Membaca Pramoedya”, untuk meluaskan diskusi, aku pun membuka milis (mailing list) dengan nama yang sama. Maka bergabunglah Bung Alfred D. Ticoalu di sana. Bersama teman-teman lain dari berbagai penjuru dunia, kami intens berdiskusi soal Pram. Mendengung-dengungkan karya Pram dengan kobar. Bahkan tak jarang terjadi lalu-lintas penjualan buku Pram, terutama karya-karya terbitan lawas.

Sejak itu, mulailah aku mengenal sosok Bung Alfred secara pribadi. Di luar milis, kami jadi kerap berdiskusi, bertukar nomor telepon, serta berbagi informasi. Beberapa kali ia mengirimi aku buku dari Amerika. Ketika “Membaca Pramoedya” menerbitkan buku Pramoedya Ananta Toer dan Manifestasi Karya Sastra (Malka, 2004), aku memintanya menulis endorsement bagi buku tersebut.

Ketika pada 27 April 2006 Pram jatuh sakit dan dilarikan ke rumah sakit, sontak aku berangkat dari Bandung menuju Jakarta. Dari Stasiun Gambir, dengan ojek, aku meluncur ke Rumah Sakit St. Carolus. Menemui dan ikut menunggui Pram di sana.

Berita sakitnya Pram pun merebak di media, termasuk milis yang kukelola. Saat itu aku belum menggunakan smartphone. Telepon selulerku belum terhubung dengan intenet. Maka, Bung Alfred-lah yang jadi penyambungku dengan milis atas perkembangan kondisi Pram di rumah sakit. Dengan cekatan ia SMS menanyakan kabar, kubalas SMS-nya, lantas dari balasan itu, ia posting ke milis. Sehingga informasi tentang kondisi Pram selalu ter-update. Gara-gara Bung Alfred pulalah teleponku jadi makin kerap berdering. Kompas, Tempo, atau detikcom meneleponku, menanyakan kondisi Pram.

Ketika pada akhirnya Pram kami bawa pulang ke rumahnya di Utan Kayu, lantas meninggal dunia pada 30 April 2006 pukul 08:55 pagi, telepon di rumah Pram berdering. Salah seorang cucu Pram menyorongkan gagang telepon padaku. “Mau bicara dengan Bung Daniel. Dari Amerika,” katanya.

Itulah untuk kali pertama aku mendengar suara lelaki bernama Alfred D. Ticoalu. Ia ingin memastikan kabar atas wafatnya Pram. Saat itu tentu saja kami bersedih. Sastrawan perkasa itu telah tiada. Siang itu, Pram pun dimakamkan di TPU Karet Bivak, Jakarta Pusat.

Apa yang diceritakan Bung Alfred di buku ini sejatinya merupakan kisah lama. Sebuah catatan yang ia tulis pada tahun 1999, ketika Pram kembali mendapatkan paspor, kembali mengenakan sepatu, serta dapat melawat ke luar negeri atas undangan berbagai kampus serta lembaga-lembaga internasional.

Tahun 2004, aku sempat meminta izin pada Bung Alfred untuk menerbitkan catatannya tersebut. Ia setuju. Dengan cepat ia menulis prakata. Bahkan aku pun sudah mulai menyuntingnya. Namun karena berbagai kendala saat itu, rencana penerbitan naskah tersebut pun urung. Catatan itu kembali tersimpan. Berdebu. Dihinggapi sarang laba-laba. Lumutan dan ditumbuhi ilalang serta rumput liar.

Hingga pada akhir Oktober 2016 lalu, saat baru saja bangun dari tidur, entah mengapa, tiba-tiba saja aku teringat pada Bung Alfred. Aku langsung mengontaknya melalui e-mail. Sekadar menanyakan kabar. Lantas bergulir begitu saja soal rencana (ulang) menerbitkan naskahnya.

Bayangkan, nyaris 18 tahun usia catatan tersebut. Hampir dua dekade. Dalam masa itu, generasi demi generasi pun bermunculan. Angkatan-angkatan muda yang tak sempat mencicipi era tumbangnya kekuasaan Orde Baru di Indonesia. Namun bagiku pribadi, selalu ada hal menarik ketika mengikuti kisah tentang Pramoedya dilihat dari katamata pembaca setianya. Sebuah kisah yang belum pernah ditulis oleh siapapun, bahkan oleh Pram sekalipun. Bung Alfred menuliskannya begitu intim dan personal.

Sekitar pertengahan tahun 2015, dalam sebuah diskusi ringan dengan Muhidin M. Dahlan di Radio Buku, Yogyakarta, ia sempat berkata: “Soal Pram harus terus didengung-dengungkan, Bung. Adalah bahaya jika sekarang kita bertanya: ‘soal Pram mau diapakan lagi?’. Tidak bisa. Siapa bakal mengenal Pram, nanti? Bisa lenyap dia,” katanya. Dalam hati aku mengakuri pendapatnya.

Untuk itulah naskah ini kuterbitkan. Sebagai pengingat bahwa kita (pernah) punya raksasa sastra Indonesia.

Selamat membaca!

Bandung, Februari 2017

Daniel Mahendra

* Tulisan ini merupakan pengantar penerbit untuk buku “Suatu Hari dalam Kehidupan Pramoedya Ananta Toer” yang diterbitkan tepat pada hari ulang tahun Pram: 6 Februari 2017.

Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrmail