Gerimis di Batas Senja

Kumpulan Puisi
Muzzamilah
Rp 48.000

Penyelia: Daniel Mahendra
Pengatak: Endang Dedih
Desain Sampul: IGNA Studio

Penerbit: Epigraf
Tahun terbit: 2018
Ukuran: 13 x 19 cm
Hal: 84
ISBN: 978-602-50238-6-6

Sesungguhnya puisi hadir dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa disadari, kita sebenarnya membuat ungkapan-ungkapan puitis dalam tuturan kita. Ini sesuai dengan etimologi kata puisi itu sendiri yang berasal dari kata bahasa Yunani poeima ‘membuat’ atau poeisis ‘pembuatan’. Puisi diartikan, dengan demikian, ‘membuat’ atau ‘pembuatan’ karena lewat puisi pada dasarnya seseorang telah menciptakan dunia tersendiri yang mungkin berisi pesan atau gambaran suasana-suasana tertentu, baik fisik maupun batiniah.

Hal inilah yang dilakukan oleh Muzammillah, seorang penyair muda yang saya kenal sejak dia masih berstatus mahasiswi di UIN Jakarta dan duduk di salah satu mata kuliah yang saya ajar. Kepiawaiannya mengolah kata membuatnya bergabung dengan salah satu komunitas yang saya dirikan, LLC (Linguistics and Literature Club). Bersama saya, puisinya pernah terhimpun dalam antalogi Empat Amanat Hujan (2010). Pada Desember 2016 yang lalu, saya dan Muzamillah mendirikan komunitas khusus puisi yang bernama LANCIP (Lahan Cipta Puisi).

Antalogi Gerimis di Batas Senja ini adalah dunia ciptaannya sendiri, poeisis-nya, yang berisi hasil cerapannya terhadap lingkungan sekelilingnya. Ini bisa dilongok di salah satu puisinya yang berjudul Kabar Pantai Jakarta : Si kecil terpinggir/Ikan pun mati/Nelayan juga/Para pengeruk menjaring/Pasir demi nama asing/17 pulau?/Reklamasi?/Tak pahami.

Ada beragam tema yang disodorkan Muzamillah dalam antologinya ini. Masing-masing karya tampak berdiri terpisah, namun itu tak mengurangi kenikmatan membaca guratan-guratan ujung penanya. Di tengah gempuran dunia digital yang nirmaujud, minat baca yang tak meninggi, upaya dan keberaniannya berkarya dengan menerbitkan antologi puisi ini patut diapresiasi. Saya harap antologi ini bukan yang pertama dan terakhir yang lahir dari dirinya. Semoga Muzamillah dapat menerakan namanya di jagat susastra wabilkhusus semesta perpuisian Indonesia.

Bambu Apus, Pamulang, Tangerang Selatan,

1 Januari 2018

Hilmi Akmal

——————————————————

Buku ini dapat dipesan melalui:

0898 3640 119

 

Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrmail