Kategori: Jurnal

Kilimanjaro – Ngobrol Santai di Bandung

Setelah sukses dengan acara bincang buku di Makassar dan Serang, buku ‘Kilimanjaro’ kembali akan menemui pembacanya di Bandung. Acara bertajuk Ngobrol Santai Pendakian ke Kilimanjaro rencananya akan digelar pada hari Sabtu, 15 Desember 2018, pukul 10.00 – 12.00 WIB.  Bertempat di Kedai Biji Kopling, Jl. Sangkuriang No. 16, Dago, Bandung. Berbeda dengan acara sebelumnya, kali ini acara […]

Baca selengkapnya

Tiga Petualang dan Penulis Legendaris Diskusi Buku Kilimanjaro Menapak Atap Afrika

Tribunnesw.com
Rabu, 5 Desember 2018 | 16:00 WIB

PENULIS novel legendaris Balada Si Roy terbitan Gramedia, Gol A Gong, bercerita mengenai novelnya yang semula dimuat majalah Hai secara berkala, kemudian dijadikan buku pada era 1990-an. Novel ini akan difilmkan.

Gol A Gong akhir-akhir ini sangat aktif berkeliling Indonesia untuk mengampanyekan Gempa Literasi, gerakan mengajak masyarakat khususnya generasi millennial untuk membaca dan menulis buku.

Meski bersaing dengan gadget di era digital, buku-buku baru senantiasa bermunculan.

Buku “Kilimanjaro Menapak Atap Afrika,” contohnya.

Baca selengkapnya

Kilimanjaro, Aku Datang!

“Aku hanya manusia biasa yang selalu bermimpi melakukan hal luar biasa.” [ Rahmat Hadi, travel writer, penulis buku Kilimanjaro ] Gol A Gong Aku mendapat buku Kilimanjaro (Epigraf, 2018) dari Daniel Mahendra awal November 2018. Kubaca pertama kali saat traveling ke Manokwari, 2 hingga 4 November. Kemudian buku itu kuhadiahkan ke seorang Kepala Sekolah di […]

Baca selengkapnya

Bincang Buku Kilimanjaro

Menjejakkan kaki di Benua Afrika adalah pengalaman tak terlupakan. Benua hitam nan eksotis itu menyimpan begitu banyak keunikan yang tak terduga. Bukan hanya Uhuru Peak―Puncak Gunung Kilimanjaro yang juga merupakan satu dari 7 puncak dunia. Lebih dari itu. Kehidupan satwa liar yang bercengkerama di habitat aslinya adalah panorama yang tak kalah menarik. Semua seperti memacu adrenalin jiwa petualangan.

Seperti apa rasanya berjalan dalam balutan dingin di tengah malam buta hingga ke puncak Kilimanjaro di ketinggian 5.985 mdpl? Seganas apa kehidupan satwa liar di habitat aslinya? Hakuna matata! Perjuangan dan semangat pantang menyerah, ditambah sedikit keberuntungan turut mewarnai kisah dalam buku Kilimanjaro – Menapak Atap Afrika.

Baca selengkapnya

Bahwa Mimpi Harus Diwujudkan

Dhani Pratiknyo
Pembaca, tinggal di Jakarta

Saya selalu percaya, apa yang ditulis dari hati, akan sampai pula ke hati pembacanya. Dan inilah yang saya rasakan setelah tuntas membaca ‘Alaya, Cerita Dari Negeri Atap Dunia’, karya Daniel Mahendra. Di 403 halamannya, saya menikmati runut kisahnya.

Berawal dari membaca Tintin saat masih kanak kanak, penulis punya impian tentang sebuah negeri yang ingin dikunjunginya, Tibet. Tapi hanya sebatas mimpi, sampai berbilang tahun setelahnya.

Ketika seorang sahabatnya, mengingatkan Daniel tentang mimpinya, ada yang mulai berubah dari sekadar mimpi, menjadi tekad dan keinginan kuat. Lantas apakah itu akan menjadikan segalanya mudah? Tidak sama sekali. Penulis bahkan harus “jatuh bangun”, mulai dari mencari biaya, menentukan tanggal keberangkatan sampai itinerary yang paling masuk akal, ditinjau dari banyak sisi, bil khusus sisi biaya.

Baca selengkapnya

Alaya di Negeri Atap Dunia

Nurul Ulu
Pembaca, tinggal di Bandung

Kemarin beli buku di Gramedia Merdeka. Kover bukunya macam kover di komik Tintin. Begitu baca nama penulisnya, gak asing terbaca. Saya gak ingat karya buku-buku yang ia pernah tulis. Ini buku pertama Daniel Mahendra yang saya baca.

Saya gak menulis ini dalam keadaan terpaksa. Malah kepengen banget nulis resensinya. Ini bukan buku yang meninggalkan kesan bagus banget tapi anehnya membuat saya pengen nulis. Lho berarti bukunya bagus atuh. Hehe.

Baik. Mari saya mulai!

Baca selengkapnya

Pre-Order Alaya


Baca selengkapnya

Asyiknya Menelusuri Sejarah dan Jejak Peradaban di Jabodetabek

Oleh Ade Ubaidil

Judul: Jejak
Penulis: Diella Dachlan dan Bimo Tedjokusumo
Penerbit: Epigraf
Cetakan: Maret 2018
Tebal: 258 halaman
ISBN: 978-602-50238-9-7

Ada sekian banyak sejarah nusantara yang belum dituliskan. Bagi seorang pejalan, menemukan artefak peninggalan manusia di masa lalu bak mendapatkan emas di belantara lumpur dan semak belukar. Barangkali itu yang terlintas di benak Diella Dachlan dan Bimo Tedjokusumo. Siapa sangka, dari kegemarannya melakukan perjalanan, dua sahabat ini berhasil menelusuri makam tentara Jerman di kaki Gunung Pangrango, jejak kebudayaan tua di seputar Gunung Salak, jejak kerajaan tua di seputar Jakarta, Bogor hingga karawang.

Melalui buku “Jejak” ini, mereka menarasikan apa saja yang berhasil ditemui di seputaran Jabodetabek. Ternyata, jejak peradaban masa lampau banyak ditemui di sela-sela tempat wisata yang selama ini tersembunyi—atau malah terabaikan keberadaannya. Tak pelak juga berada di antara perkampungan, semak-semak hutan hingga yang rata bersama bangunan yang baru didirikan.
Baca selengkapnya

Catatan Perjalanan Para Pembelajar

Judul Buku : Jejak: Wisata Menelusuri Jejak Peradaban Masa Lalu di Seputar Jabodetabek
Penulis : Diella Dachlan & Bimo Tedjokusumo
Penerbit : Epigraf
Tahun Terbit : 2018
Tebal : 256 halaman

Pertanyaan lah yang menggerakkan peradaban, bukan pernyataan. Kecurigaan, keraguan, rasa penasaran, dan keingintahuan lah yang pada akhirnya membuat manusia bergerak. Meskipun sejarah, merujuk pada kesimpulan sejarawan Yuval Noah Harari, pada akhirnya lahir dari eksperimen ketidaktahuan. Penemuan benua Amerika dan Australia atau pun revolusi Prancis adalah buah dari eksperimen ketidaktahuan.

Buku Jejak: Wisata Menelusuri Jejak Peradaban Masa Lalu di Seputar Jabodetabek yang ditulis oleh Diella Dachlan dan Bimo Tedjokusumo ini adalah sebuah catatan gabungan antara rasa penasaran dan eksperimen ketidaktahuan. Rasa penasaran lah yang menggerakkan Diella dan Bimo menelusuri situs peninggalan era megalithikum di Gunung Salak, prasasti Batutulis yang menyingkap legenda Prabu Siliwangi serta lapisan kisah Pakuan Pajajaran, jejak Kerajaan Tarumanegara di Kampung Muara Bogor, makam Jerman di Megamendung, hingga kisah Kartosuwiryo di Pulau Onrust.

Diella dan Bimo bukan sejarawan, juga bukan arkeolog. Mereka juga tak punya Latar belakang akademis untuk kedua hal tersebut. Diella adalah konsultan komunikasi yang sempat mempelajari sastra Jerman di Universitas Indonesia, Komunikasi Pembangunan Pertanian di Institut Pertanian Bogor, dan studi komunikasi dan media di University of Leicester Inggris.
Baca selengkapnya

WOK – Sebuah Catatan

Oleh Rifqi Yustianto Setyandaru

Syahdan, pada medio 1990 menjelang kelulusan siswa-siswi SMPN 2 Jember, tercetus ide untuk merayakannya dengan berdarmawisata ke Pulau Bali. Ide yang menarik tapi jelas butuh dana yang tidak sedikit. Apabila hanya mengandalkan iuran sesama murid, bisa jadi yang berangkat tidaklah semua dan rasanya kurang lega. Kemudian muncul ide lain, bagaimana kalau mencetak buku kumpulan puisi dan menjualnya kepada orang tua murid untuk menambah dana yang ada?

Puisi? Iya, puisi. Saat itu, setiap terbit majalah sekolah bernama Si Mini, rubrik puisi selalu terisi. Ada yang menggunakan nama terang, ada yang menggunakan samaran, kegenitan generasi yang dibesarkan Orde Baru yang barangkali akan ditertawakan putra-putri zaman kini. Begitulah, puisi-puisi yang terserak itu kemudian diseleksi lebih lanjut untuk kemudian dibukukan dan diterbitkan. Berjudul Puisiku Puisimu. Buku itu entah terjual berapa eksemplar, namun, yang jelas perjalanan ke Bali menjadi terlaksana dan kami semua bergembira.

Pemilihan puisi dan koordinasi pencetakan bukunya saat itu dipimpin oleh guru cum seniman sekaligus pembina OSIS bernama Pak Purwono. Kami biasa memanggilnya Pak Pur, meski beliau membahasakan dirinya dengan panggilan Wok.
Baca selengkapnya